Sabtu, 27 Februari 2010

JAM PIKET ORGAN TUBUH

JAM PIKET ORGAN TUBUH
Sobat, kali ini saya mendapatkan info kesehatan dari temen facebook. Hanya ingin berbagi informasi aja ternyata, Subhanallah, organ tubuh manusia memiliki kerja yang terkoordinir dengan sungguh luar biasa. Ingin tahu? baca ya sampai akhir.
LAMBUNG
Jam 07.00 – 09.00 Jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari. Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh.
LIMPA
Jam 09.00 – 11.00 Jam piket organ limpa kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk energi pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa lemah. Kurangi konsumsi gula, lemak,minyak dan protein hewani.
JANTUNG
Jam 11.00 – 13.00 Jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah fisik, ambisi dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah .
HATI
Jam 13.00 – 15.00 Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati. Apabila fungsi hati kuat maka tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.
PARU-PARU
Jam 15.00 – 17.00 Jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru
GINJAL
Jam 17.00 – 19.00 Jam piket organ ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta kecerdasan.
LAMBUNG Jam 19.00 – 21.00 Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi makan yang sulit dicerna atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan LIMPA Jam 21.00 – 23.00 Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan musik yang menenangkan jiwa, untuk meningkatkan imunitas.
JANTUNG
Jam 23.00 – 01.00 Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur, apabila masih terus bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.
HATI
Jam 01.00 – 03.00 Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil metabolisme tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan gangguan mata. Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.
PARU-PARU
Jam 03.00 – 05.00 Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun pada organ paru-paru, apabila terjadi batuk, bersin-bersin dan berkeringat menandakan adanya gangguan fungsi paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi paru yang sehat dan kuat.
»»  read more

Mencegah Batu Ginjal

Mencegah Batu Ginjal


Batu di dalam ginjal atau saluran kemih yang berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan dapat keluar sendiri bersama air seni. Tetapi batu yang lebih besar dapat menimbulkan hambatan atau bahkan sumbatan aliran air seni. Jika hal ini terjadi maka akan timbul berbagai macam gejala, yang antara lain :
  1. Rasa nyeri yang berat dan tiba-tiba di daerah pinggang yang menjalar sampai pangkal paha. Rasa nyeri tidak berkurang walaupun penderita mencoba posisi-posisi tertentu, misalnya berbaring, membungkuk, dll. Penderita biasanya harus menggeliat menahan sakit. Bahkan karena rasa sakit yang amat sangat, seringkali penderita basah kuyup oleh keringat.
  2. Biasanya ada keluhan mual dan muntah.
  3. Walaupun tidak selalu, kadang kala dijumpai darah pada air seni. Hal ini terjadi karena batu mengiritasi saluran kemih sehingga menimbulkan luka.
  4. Perasaan terbakar di saluran kemih saat kencing.
  5. Rasa sangat ingin kecing.
  6. Demam.
Batu ginjal atau batu saluran kemih umumnya timbul akibat berubahnya keseimbangan normal antara air, garam, mineral, dan zat-zat lain dalam air seni. Jenis zat yang meninggi kadarnya menentukan jenis batu yang terbentuk. Beberapa jenis batu menurut zat yang membentuknya adalah:
  1. Batu kalsium; batu jenis ini paling sering ditemukan. Bentuknya besar dengan permukaan yang halus. Dapat berupa campuran antara kalsium dengan oksalat atau kalsium dengan fosfat. Batu kalsium sering dijumpai pada orang yang mempunyai kadar vitamin D berlebihan atau gangguan kelenjar paratiroid. Orang-orang yang menderita penyakit kanker, penyakit ginjal, atau penyakit sarkoidosis juga dapat menderita batu kalsium.
  2. Batu asam urat; permukaannya halus, berwarna coklat, dan lunak. Batu ini terbentuk akibat kadar asam urat pada air seni tinggi. Batu asam urat biasanya menyertai penyakit radang sendi akibat asam urat (gout arthritis).
  3. Batu struvite; batu ini biasanya berbentuk tanduk rusa. Timbul akibat kadar amoniak dalam air seni tinggi. Amoniak yang tinggi biasanya terjadi akibat adanya infeksi saluran kemih, karena bakteri penyebab infeksi dapat menghasilkan amoniak.
  4. Batu sistin; berbentuk kristal kekuningan. Timbul akibat tingginya kadar sistin dalam urin. Keadaan ini terjadi pada penyakit sistinuria. Batu jenis ini jarang dijumpai, hanya satu diantara seribu. Batu sistin biasanya mengenai penderita usia 10 – 30 tahun.
Agar terhindar dari penyakit batu ginjal, beberapa cara yang disarankan antara lain :
  1. Minum banyak air (8-10 gelas sehari), dengan demikian urin menjadi lebih encer sehingga mengurangi kemungkinan zat-zat pembentuk batu untuk saling menyatu. Dengan minum banyak, air seni biasanya berwarna bening, tidak kuning lagi.
  2. Minum air putih ketika bangun tidur di subuh hari. Hal ini akan segera merangsang kita untuk berkemih, sehingga air seni yang telah mengendap semalamam tergantikan dengan yang baru.
  3. Jangan menahan kencing; kencing yang tertahan dapat menyebabkan urin menjadi lebih pekat, atau infeksi saluran kemih. Urin yang pekat dan infeksi saluran kemih merupakan faktor pendukung terbentuknya batu.
  4. Pola makan seimbang, berolahraga, dan menjaga berat badan tetap ideal.
Demikian, semoga membantu.
»»  read more

Manfaat Kunyit

Manfaat Kunyit

Posted by pipiet on Dec 26, 2009 in kesehatan2

aneh
Kunyit atau Curcuma longa Linn. atau Curcuma domestica Val. Zingiberaceae Kunyit (Curcuma domestic) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat, habitat asli tanaman ini meliputi wilayah Asia khususnya Asia Tenggara.
Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Nama Lokal : Saffron (Inggris), Kurkuma (Belanda), Kunyit (Indonesia); Kunir (Jawa), Koneng (Sunda), Konyet (Madura); Kandungan Kimia : Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan bisdesmetoksikurkumin dan zat- zat manfaat lainnya Penggunaan Untuk Obat : 1. Diabetes mellitus Familia :
* Bahan: 3 rimpang kunyit, 1/2 sendok the garam
* Cara membuat: kedua bahan tersebut direbus dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring.
* Cara menggunakan: diminum 2 kali seminggu 1/2 gelas.
2. Tifus
* Bahan: 2 rimpang kunyit, 1 bonggol sere, 1 lembar daun sambiloto
* Cara membuat: Semua bahan tersebut ditumbuk halus dan dipipis, kemudian ditambah 1 gelas air masak yang masih hangat, dan disaring.
* Cara mengunakan: diminum, dan dilakukan selama 1 minggu berturut-turut.
3. Usus buntu
* Bahan: 1 rimpang kunyit, 1 butir buah jeruk nipis, 1 potong gula kelapa/aren. Garam secukupnya.
* Cara membuat: Kunyit diparut dan jeruk nipis diperas, kemudian dicampur dengan bahan yang lain dan disedu dengan 1 gelas air panas, kemudian disaring.
* Cara menggunakan:diminum setiap pagi setelah makan, secara teratur.
4. Disentri
* Bahan: 1-2 rimpang kunyit, gambir dan kapur sirih secukupnya
* Cara membuat: semua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas kemudian disaring.
* Cara menggunakan:diminum dan diulangi sampai sembuh.
5. Sakit Keputihan
* Bahan: 2 rimpang kunyit, 1 genggam daun beluntas, 1 gagang buah asam, 1 potong gula kelapa/aren.
* Cara membuat: semua bahan tersebut direbus dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian di saring.
* Cara menggunakan:diminum 1 gelas sehari.
6. Haid tidak lancar
* Bahan: 2 rimpang kunyit, 1/2 sendok Teh ketumbar, 1/2 sendok Teh biji pala, 1/2 genggam daun srigading.
* Cara membuat: semua bahan tersebut ditumbuk halus kemudian direbus dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring
* Cara menggunakan: diminum 1 gelas sehari.
7. Perut mulas pada saat haid
* Bahan: 1 rimpang kunyit sebesar 4 cm, 1 rimpang jahe sebesar 4 cm, 1/2 rimpang kencur sebesar 4 cm
* Cara membuat: semua bahan tersebut dicuci bersih dan diparut untuk diambil airnya, kemudian di tambah dengan perasan jeruk nipis, diseduh dengan 1/2 gelas air panas dan disaring.
* Cara menggunakan: ditambah garam dan gula secukupnya dan diminum pada hari pertama haid.
8. Memperlancar ASI
* Bahan: 1 rimpang kunyit
* Cara membuat: kunyit ditumbuk sampai halus
* Cara menggunakan: dioleskan sebagai kompres diseputar buah dada 1 kali setiap 2 hari.
9. Cangkrang (Waterproken)
* Bahan: 2 rimpang kunyit, 1 genggam daun eceng,
* Cara Membuat: semua bahan tersebut ditumbuk sampai halus
* Cara menggunakan: dioleskan pada bagian yang kena cangkrang.
10. Amandel
* Bahan: 1 rimpang kunyit, 1 butir jeruk nipis, 2 sendok madu
* Cara membuat: Kunyit diparut, jeruk diperas untuk diambil airnya, kemudian dicampur dengan madu dan 1/2 gelas air hangat, diaduk sampai merata dan disaring
* Cara menggunakan:diminum secara rutin 2 hari sekali.
11. Berak lendir
* Bahan: 1 rimpang kunyit, 1 potong gambir, 1/4 sendok makan kapur sirih
* Cara membuat: semua bahan tersebut direbus bersama dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas dan disaring.
* Cara menggunakan: diminum 2 kali sehari 1/2 gelas, pagi dan sore.
12. Morbili
* Bahan: 1 rimpang kunyit dan 1 rimpang dringo bengle
* Cara membuat: kedua bahan tersebut ditumbuk bersama sampai halus
* Cara menggunakan:dioleskan pada seluruh badan sebagai bedak
»»  read more

G-Spot dan Kesehatan Reproduksi Wanita

G-Spot dan Kesehatan Reproduksi Wanita

Berdasarkan definisi dari Departemen Kesehatan, diketahui bahwa kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara menyeluruh serta proses reproduksi. Dengan demikian kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi bebas dari penyakit, melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan baik sebelum menikah maupun sesudah menikah.

Anatomi Alat Reproduksi Wanita


Anatomi Alat Reproduksi WanitaAlat reproduksi sendiri adalah bagian-bagian tubuh kita yang berfungsi dalam melanjutkan keturunan. Alat reproduksi wanita berbeda dengan alat reproduksi laki-laki. Di artikel ini kita akan lebih khusus membahas alat reproduksi wanita.
Alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan luar. Bagian dalam memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Bibir kemaluan (labia mayora), yaitu daerah yg berambut, berfungsi sebagai pelindung dan menjaga agar bagian dalam tetap lembab.
  • Bibir dalam kemaluan (labia minora), yaitu daerah yang tidak berambut dan memiliki jaringan serat sensorik yang luas yang sangat peka karena mengandung ujung syaraf.
  • Vagina, yaitu rongga penghubung antara alat reproduksi wanita bagian luar dan dalam.

Sementara itu alat reproduksi wanita bagian luar memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Vagina bagian luar, yang merupakan jalan keluar bagi darah haid dan jalan keluar ketika bayi lahir (sifatnya sangat lentur sehinggga bayi dapat keluar melalui vagina).
  • Leher rahim (cervix), yang merupakan penghubung antara vagina dan rahim.
  • Rahim (uterus), tempat dimana sel telur yang sudah dibuahi tumbuh dalam rahim selama kehamilan. Bila telur tidak dibuahi, maka sel telur menempel ke dinding rahim. Selanjutnya dinding rahim menebal lalu luruh dan mengalir keluar dalam bentuk darah. Inilah yang disebut haid (menstruasi).
  • Saluran telur (tuba falopii), yaitu dua saluran yang terletak sebelah kanana dan kiri rahim yang berfungsi sebagai penghubung rongga rahim dan indung telur.
  • Dua buah indung telur ( ovarium), berfungsi memproduksi sel telur dan hormon peremputan yaitu estrogen dan progesterone. Atas pengaruh hormon, sebanyak satu sampai dua sel telur masak setiap bulan , lalu dilepaskan ke dinding rahim. Dinding rahim ini akan menebal, yang sebetulnya berguna sebagai tempat sel telur bersarang setelah dibuahi.

Nah… apakah tanda-tanda kematangan alat reproduksi wanita? Kematangan alat reproduksi wanita ditandai oleh terjadinya haid pertama, yaitu disebut menarche. Biasanya kita menyebut anak remaja wanita yang demikian sudah akil baligh, yang dimulai sekitar umur 8-12 tahun. Bila seorang wanita sudah mengalami menarche, itu artinya tubuhnya sudah menghasilkan sel telur yang bisa dibuahi sperma yang dihasilkan oleh tubuh laki-laki, dan dapat menyebabkan terjadinya kehamilan.

Letak G-Spot Wanita


Selain alat reproduksi tadi, Anda juga perlu mengenali satu area lagi yang sering disebut G-Spot. Mencari letak posisi G-Spot wanitaG-Spot (Grafenberg Spot) saat ini sering dibahas di berbagai media. Katanya, titik G-Spot ini adalah sebuah ruang sempit dibalik tulang pubis wanita ini yang apabila tersentuh akan memberikan sensasi yang luarbiasa.

Titik G-Spot dapat ditemukan dengan memasukkan jari-jari ke dalam Vagina dengan telapak tangan menghadap ke depan. Dengan menyentuh dan memainkan bagian ini dengan perlahan, dapat membuat pasangan wanita multiple orgasme. G Spot juga dapat terstimulasi dengan baik saat bercinta dengan posisi doggy style atau spooning.
Nah…berbekal pengetahuan anatomi tubuh dan alat reproduksi, tentunya Anda kini dapat mempersiapkan diri untuk menikmati saat-saat indah bersama. Jangan takut untuk mencoba dan mengekplorasi tubuh pasangan, karena kreativitas memang merupakan elemen yang sangat penting untuk membina hubungan intim yang senantiasa penuh gairah.
»»  read more

Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja

Definisi Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatan Reproduksi Remaja
Kesehatan Reproduksi Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.  Batasan usia remaja menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) adalah 12 sampai 24 tahun.  Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah, maka ia tergolong dalam dewasa atau bukan lagi remaja.  Sebaliknya, jika usia sudah bukan lagi remaja tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke dalam kelompok remaja.
Apa yang dimaksud dengan reproduksi?
Secara sederhana reproduksi berasal dari kata re = kembali dan produksi = membuat atau menghasilkan, jadi reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidup.
Apasih Kesehatan reproduksi itu?
KESEHATAN REPRODUKSI (kespro) adalah Keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi (Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, 1994).
Bagaimana cakupan pelayanannya?
Cakupan pelayanan kesehatan reproduksi:
  • konseling dan informasi Keluarga Berencana (KB)
  • pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk: pelayanan aborsi yang aman, pelayanan bayi baru lahir/neonatal)
  • pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual (PMS), termasuk pencegahan kemandulan
  • Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR)
  • Konseling, informasi dan edukasi (KIE) mengenai kespro
Apa itu Kesehatan Reproduksi Remaja?
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.  Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.
Mengapa Remaja Perlu Mengetahui Kesehatan Reproduksi?
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya.  Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai  proses reproduksi.
Pengetahuan dasar apa yang perlu diberikan kepada remaja agar mereka  mempunyai kesehatan reproduksi yang baik?
  • Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  • mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya
  • Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
  • Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
  • Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
  • Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  • Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif
  • Hak-hak reproduksi
Siapa saja yang Perlu Diberitahu Perihal Informasi Kesehatan Reproduksi?
Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan.  Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi.  Kesalahan dimana persoalan reproduksi lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan tidak boleh terjadi lagi.
»»  read more

Bronchitis

Bronchitis

acute bronchitis
Bronchitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara keparu-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa bersifat serius
PENYEBAB
Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi – belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.
Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus, bakteri dan (terutama) organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia). Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderitapenyakit paru-paru dan saluran pernafasan menahun.
Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari: Sinusitis kronis, Bronkiektasis, Alergi, pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak.
Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh: Berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut organic klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromine, polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida, tembakau dan rokok lainnya.
GEJALA
Gejalanya berupa: batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan), sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan, sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu), bengek, cepat lelah, pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan, wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan, pipi tampak kemerahan, sakit kepala, gangguan penglihatan.
Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti:
pilek, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan dan nyeri tenggorokan.
Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya bronkitis.
Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau.
Pada bronkitis berat, setelah sebagian besar gejala lainnya membaik, kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu.
Sesak nafas terjadi jika saluran udara tersumbat, sering ditemukan bunyi nafas mengi, terutama setelah batuk, bisa erjadi pneumonia.
DIAGNOSA
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi pernafasan yang abnormal.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: tes fungsi paru-paru, analisa gas darah arteri, rontgen dada.
TATALAKSANA
Mencari penyebab. Bila karena alergi: modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak, humidifikasi, ekstra cairan, dll
Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa “itis” di sini artinya radang/ inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri, mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.
PENGOBATAN
Untuk mengurangi demam dan rasa tidak enak badan, kepada penderita dewasa bisa diberikan aspirin atau acetaminophen; kepada anak-anak sebaiknya hanya diberikan acetaminophen.
Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru.
Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau ampisilin. Erythromycin diberikan walaupun dicurigai penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae.
Kepada penderita anak-anak diberikan amoxicillin. Jika penyebabnya virus, tidak diberikan antibiotik.
Jika gejalanya menetap atau berulang atau jika bronkitisnya sangat berat, maka dilakukan pemeriksaan biakan dari dahak untuk membantu menentukan apakah perlu dilakukan penggantian antibiotik.
Hal yang harus diperhatikan
Harus diidentifikasi jelas dulu, apakah terkena jenis Bronchitis Akut atau Bronchitis Kronis. Ini tentu dari hasil pemeriksaan medis yang biasanya dilakukan lewat hasil observasi dokter, hasil rontgent dada, tes darah, hasil biakan kultur, tes paru-paru.
Kalau ternyata menderita Bronchitis Akut, ada 2 kemungkinan penyebabnya, yaitu infeksi virus atau bakteri.
Gejalanya biasanya berlangsung cepat, kadang parah dan bisa sampai beberapa hari/minggu
Gejala Bronchitis Akut, di antaranya: demam, jika batuk terasa sakit, radang tenggorokan, lendir/dahak berwarna kekuningan dan kental, napas pendek atau napas berbunyi.
Kalau Bronchitis Kronis biasanya karena kebiasaan merokok (tapi balita juga ada kemungkinan menderita Bronchitis Kronis karena selama ini jadi ‘perokok pasif’ alias tinggal serumah/selingkungan dengan perokok aktif). Gejalanya berlangsung bisa sampai bulanan bahkan tahunan.
Bronchitis menular? SANGAT. Biasanya melalui percikan dari penderita yang batuk, bersin atau lewat sentuhan dengan benda-benda yang baru saja digunakan penderita.
Treatment
Jika memang penyebabnya virus (bronchitis akut biasanya disebabkan virus, terjadi setelah mengalami flu atau batuk), penggunaan antibiotik SAMA SEKALI tidak menolong. The best treatment hanya dengan ISTIRAHAT, MINUM banyak cairan, atau gunakan obat penurun demam/nyeri jika diperlukan (misal obat yang mengandung paracetamol, dijual bebas di toko-toko obat).
Dalam beberapa kasus, dokter kadang merekomendasikan penggunaan obat ‘bronchodilator’ untuk mempermudah penderita bernapas
Jika batuk lebih dari 10 hari dan setelah pemeriksaan medis, dapat diidentifikasi bakteri penyebabnya, umumnya digunakan antibiotik karena penyebab bronchitisnya bukan lagi virus.
Jika menderita bronchitis kronis, segera hentikan kebiasaan merokok atau hindari perokok aktif.
Bila perlu gunakan ‘air humidifier’ di kamar untuk membantu penderita mengurangi batuknya.
Pencegahan lainnya, hindari segala sesuatu yang bisa mencetuskan gejala bronchitis, mis. polusi udara atau alergen (hal-hal yang menyebabkan alergi: debu, filter AC yang kotor,zat-zat kimia, dll.)
Untuk mencegah tidak tersebarnya infeksi bronchitis, usahakan menjaga stamina tubuh agar tidak terinfeksi penyakit yang berhubungan dengan saluran pernapasan.
Caranya, di antaranya dengan rajin mencuci tangan, punya pola makan dan pola tidur yang baik, jangan dulu berhubungan dekat dengan penderita bronchitis.
Bronchitis Akut (yang umumnya dialami balita) ‘seharusnya’ sembuh sekitar sekian hari hingga 3-4 minggu.
Di salah satu artikel di internet yang saya baca, ada beberapa tips menghindari/meminimalkan gejala bronchitis, di antaranya:
• Banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan (yang kaya kandungan antioksidan) telah terbukti mengurangi resiko akibat bronchitis kronis.
• Saat mengalami bronchitis, hindari produk susu dan bahan makanan mengandung gula (sukrosa, fruktosa) karena dipercaya dapat meningkatkan produksi ‘lendir’ saat batuk
»»  read more

Kanker Penis

Kanker Penis
Oleh : Dr. Dito Anurogo
Sinonim:
Penile tumor, penile cancer, penile carcinoma, penile malignancies.
Penyebab (Etiology):
Sedikitnya 25-75% pria yang menderita kanker penis disertai phimosis.

Pada wanita yang pasangan seksualnya menderita kanker penis, maka prevalensi untuk menderita kanker serviks meningkat 3-8 kali lipat dibandingkan dengan yang pasangan seksualnya normal.
Peranan infeksi virus terus dipelajari. Baik kanker penis (penile cancer) maupun kanker leher rahim (cervical cancer) berhubungan dengan keberadaan infeksi virus herpes dan human papilloma virus (HPV).

Human papilloma viruses (HPV) tipe 16 dan 18 telah ditemukan pada sepertiga pria yang menderita kanker penis. Apakah virus ini menyebabkan kanker ataukah hanya berperan sebagai saprophytes, belum ditetapkan.

Penile intraepithelial neoplasia dipertimbangkan sebagai precursor, tetapi hanya 5-15% dari lesi ini yang berkembang menjadi invasive squamous cell carcinoma.

Belum ada bukti nyata bahwa smegma merupakan karsinogen (zat penyebab kanker), meskipun hal ini telah dipercaya secara luas.


Tingkatan/Klasifikasi

Pada kanker penis, biasa digunakan sistem klasifikasi Jackson dan TNM sebagai berikut (untuk menghindari salah dalam terjemahan, kami kutip versi bahasa Inggrisnya untuk pembaca):

* The Jackson classification is as follows:

o Stage I (A): The tumor is confined to the glans, prepuce, or both.
o Stage II (B): The tumor extends onto the shaft of the penis.
o Stage III (C): The tumor has inguinal metastasis that is operable.
o Stage IV (D): The tumor involves adjacent structures and is associated with inoperable inguinal metastasis or distant metastasis.


* The TNM classification of the primary tumor (T) is below. Note that the following description is devoid of N (node) and M (metastasis) descriptions. These stages simply relate the presence or absence of nodal and distant metastases.

o TX: Primary tumor cannot be assessed.
o T0: Primary tumor is not evident.
o Tis: CIS is present.
o Ta: Noninvasive verrucous carcinoma is present.
o T1: Tumor invades subepithelial connective tissue.
o T2: Tumor invades corpora spongiosum or cavernosum.
o T3: Tumor invades the urethra or prostate.
o T4: Tumor invades other adjacent structures.

Gejala Klinis:

Pasien datang dengan lesi yang sulit sembuh, disertai “subtle induration” pada kulit, pertumbuhan kecil di kulit (a small excrescence), papula, pustula, tumbuhnya kutil atau veruka (a warty growth), atau pertumbuhan exophytic.

Banyak pria tidak periksa ke dokter sampai kanker meng-erosi (eroded) preputium dan menjadi berbau tidak sedap karena infeksi dan nekrosis.

Adakalanya, kanker penis ditemukan kebetulan pada pemeriksaan histopathology saat khitan (circumcision).

Terkadang ditemukan suatu massa, ulceration, suppuration, atau perdarahan (hemorrhage) di daerah lipat paha (inguinal) karena nodal metastases.

Nyeri jarang timbul bahkan bila telah terjadi kerusakan jaringan setempat (significant local destruction of tissue) yang berarti.
Penderita dengan kanker yang telah menyebar luas (advanced metastatic cancer) dapat mengeluhkan lemah (weakness), penurunan berat badan (weight loss), kelelahan (fatigue), lesi pada penis kemungkinan dapat berdarah.

Adanya lesi (luka) di penis yang tak kunjung sembuh (nonhealing) biasanya membuat pasien memeriksakan diri ke dokter.


Kategori lesi pada penis:
1. Lesi yang jinak (benign lesions)
Misalnya: pearly penile papules, hirsute papillomas, dan coronal papillae.

2. Lesi yang berpotensi menjadi ganas (premalignant)
Ini berhubungan dengan Leukoplakia dan squamous cell carcinoma. Contoh yang paling umum adalah balanitis xerotica obliterans.

3. Lesi yang ganas (malignant neoplasm atau malignant carcinoma)
Ini termasuk variants dari squamous cell carcinoma seperti: carcinoma in situ (CIS), erythroplasia of Queyrat, dan Bowen disease.

Pemeriksaan Laboratorium:
1. Tidak ada pemeriksaan laboratorium khusus (specific) atau petanda tumor (tumor markers) pada kanker penis.

2. Pemeriksaan umum, meliputi: hitung darah lengkap, pemeriksaan kimia dengan tes fungsi hati (a chemistry panel with liver function tests), dan penilaian (assessment) status jantung, paru-paru, dan ginjal, sangat membantu untuk mendeteksi masalah yang tak terduga.

3. Pasien dengan penyakit yang parah dapat anemis, dengan leukocytosis dan hypoalbuminemia.

4. Hypercalcemia ditemukan pada beberapa pasien saat ketiadaan penyebaran (absence of metastases).


Prosedur Diagnostik:
Tes diagnostik yang paling penting adalah biopsi.


Terapi:

Terapi Medis:
Neoplasma intraepitel seperti Bowen disease atau erythroplasia of Queyrat dapat diterapi dengan topical 5-fluorouracil.

Radiation therapy

Macamnya:
1. External beam radiation therapy
2. Brachytherapy

Indikasi terapi radiasi:
1. Pria muda dengan kanker pada glans atau coronal sulcus dengan ukuran kecil (<3 cm), superficial, lesi exophytic, atau noninvasive.

2. Pasien menolak tindakan bedah atau datang dengan metastatic disease dan memerlukan terapi "palliative".
Khitan/sunat (circumcision) direkomendasikan sebelumnya untuk memulai terapi radiasi untuk kanker yang melibatkan/menyertai preputium (kulup zakar).

Terapi radiasi memiliki kekurangan. Squamous cell carcinomas cenderung resistant, dan dosis untuk “high tumor” yaitu 0.6 Gy yang diperlukan untuk merawat tumor dapat menyebabkan urethral fistulae, strictures, penile necrosis, nyeri, dan edema.

Jika kanker terinfeksi, maka efek terapi dapat berkurang, sedangkan risiko terjadinya komplikasi akan meningkat.


Kemoterapi

Obat-obatan yang paling banyak digunakan antara lain: cisplatin, bleomycin, methotrexate, dan fluorouracil.


Terapi Pembedahan (Surgical therapy)
Standar terapi untuk kanker primer adalah pemotongan setempat (local excision) dan partial atau total penectomy.

Pada pasien dengan tumor yang berukuran kecil yang terbatas pada preputium, cukup dengan khitan (circumcision).

Amputasi sebagian (partial amputation) cocok jika kanker meliputi glans penis dan bagian distal penis saat ereksi (distal shaft).

Pada beberapa situasi/keadaan, Local wedge resection dapat dikerjakan dengan mudah (feasible), ini berhubungan dengan rata-rata rekurensi sebesar 50%. Jika surgical resection baik dengan wedge maupun partial penectomy tidak memberikan kebebasan yang cukup (adequate margin), maka strategi total penectomy haruslah dipertimbangkan. Jika sebagian sisa penis (residual penis) dan urethra tidak cukup bagi pasien untuk kencing sambil berdiri, maka dapat dilakukan tindakan perineal urethrostomy.

Teknik bedah lainnya adalah Mohs micrographic surgery (MMS), yang dapat dipakai (applicable) untuk pasien dengan noninvasive disease.


Bedah Laser
Bedah laser (Laser surgery) digunakan pada pasien dengan lesi jinak (benign) dan ganas (malignant) yang ada di permukaan (superficial). Terapi ini telah diterapkan pada kasus-kasus “local and limited invasive disease”. Empat tipe laser yang digunakan dalam bedah laser, yaitu: carbon dioxide, Nd:YAG, argon, dan potassium-titanyl-phosphate (KTP) lasers.


Komplikasi

Sedikit komplikasi bedah yang dijumpai pada eksisi tumor primer, penectomy partial atau complete, misalnya saja:
1. infeksi
2. edema
3. striktura uretra
jika urethral meatus yang baru harus dibuat.

Komplikasi yang berhubungan dengan inguinal node dissections:
1. Komplikasi dini (early complications) misalnya: infeksi luka (wound infection), seroma, skin flap necrosis, phlebitis, dan emboli paru-paru (pulmonary embolus)

2. Komplikasi lanjutan (Late complications) misalnya: lymphedema pada scrotum dan anggota gerak bagian bawah (kaki).


Komplikasi terapi radiasi:
Biasanya terlihat pada tumor yang berukuran lebih besar dari 4 cm.
1. urethral strictures (pada 50% pasien)
2. urethral fistula3. penile necrosis
4. edema
5. nyeri pada penis

Pembedahan setelah terapi radiasi diperlukan pada 20-60% pasien.


Pencegahan:
Khitan (circumcision) ditetapkan sebagai pencegah (prophylactic) yang efektif untuk kanker penis. Perlu diketahui, kanker penis ditemukan lebih sering ketika khitan/sunat ditunda hingga pubertas. Khitan saat dewasa hanya sedikit bahkan tidak memberikan proteksi dari kanker penis.


Catatan:
1. Penyakit ini jarang terjadi pada pria yang telah disunat (circumcised men), terutama jika disunat saat bayi.

2. Kanker penis cenderung dialami pria dewasa yang berusia kira-kira 60-80 tahun. Pada dewasa muda tidak biasa dijumpai. Suatu penelitian melaporkan bahwa 22% pasien berusia kurang dari 40 tahun, dan hanya 7% yang berusia kurang dari 30 tahun.

3. Jika kanker (carcinoma in situ atau CIS) terjadi di glans penis, disebut erythroplasia of Queyrat. Namun jika terjadi di "follicle-bearing skin of the shaft" disebut Bowen disease.

4. Angka kematian penderita karena kanker penis mencapai 22,4%.

5. Sebanyak 15-50% pasien kanker penis menunda periksa ke dokter selama lebih dari 1 tahun.

6. Sebagian besar kanker penis merupakan "squamous cell carcinomas".

7. Tumor penis dapat ditemukan dimana saja di penis, namun terbanyak ditemukan di glans penis (48%) dan preputium (21%).


Referensi Utama:
http://www.emedicine.com/med/topic3046.htm

Bacaan Lebih Lanjut:

1. Agrawal A, Pai D, Ananthakrishnan N, et al: The histological extent of the local spread of carcinoma of the penis and its therapeutic implications. BJU Int 2000 Feb; 85(3): 299-301.

2. Algaba F, Horenblas S, Pizzocaro-Luigi Piva G, et al: EAU guidelines on penile cancer. Eur Urol 2002 Sep; 42(3): 199-203.

3. Bevan-Thomas R, Slaton JW, Pettaway CA: Contemporary morbidity from lymphadenectomy for penile squamous cell carcinoma: the M.D. Anderson Cancer Center Experience. J Urol 2002 Apr; 167(4): 1638-42.

4. Bissada NK: Conservative extirpative treatment of cancer of the penis. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 283-90.

5. Bissada NK, Yakout HH, Fahmy WE, et al: Multi-institutional long-term experience with conservative surgery for invasive penile carcinoma. J Urol 2003 Feb; 169(2): 500-2.

6. Brandes SB, Sengelmann R, Hruza G: Mohs micrographic surgery for penile cancer: management and long term follow-up [abstract 708]. J Urol 2001; 165: 172.

7. Burgers JK, Badalament RA, Drago JR: Penile cancer. Clinical presentation, diagnosis, and staging. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 247-56.

8. Catalona WJ: Modified inguinal lymphadenectomy for carcinoma of the penis with preservation of saphenous veins: technique and preliminary results. J Urol 1988 Aug; 140(2): 306-10.

9. Coblentz TR, Theodorescu D: Morbidity of modified prophylactic inguinal lymphadenectomy for squamous cell carcinoma of the penis. J Urol 2002 Oct; 168(4 Pt 1): 1386-9.

10. Colberg JW, Andriole GL, Catalona WJ: Long-term follow-up of men undergoing modified inguinal lymphadenectomy for carcinoma
of the penis. Br J Urol 1997 Jan; 79(1): 54-7.

11. d'Ancona CA, de Lucena RG, Querne FA, et al: Long-term followup of penile carcinoma treated with penectomy and bilateral modified inguinal lymphadenectomy. J Urol 2004 Aug; 172(2): 498-501; discussion 501.

12. Das S: Penile amputations for the management of primary carcinoma of the penis. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 277-82.

13. Davis JW, Schellhammer PF, Schlossberg SM: Conservative surgical therapy for penile and urethral carcinoma. Urology 1999 Feb; 53(2): 386-92.

14. Dewire D, Lepor H: Anatomic considerations of the penis and its lymphatic drainage. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 211-9.

15. Dillner J, von Krogh G, Horenblas S, Meijer CJ: Etiology of squamous cell carcinoma of the penis. Scand J Urol Nephrol Suppl 2000; 189-93.

16. Donat SM: Surgery of penile and urethral carcinoma. Campbell's Urology. 8th ed. 2002:2985-3004.

17. Eisenberger MA: Chemotherapy for carcinomas of the penis and urethra. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 333-8.

18. Emerson RE, Ulbright TM, Eble JN, et al: Predicting cancer progression in patients with penile squamous cell carcinoma: the importance of depth of invasion and vascular invasion. Mod Pathol 2001 Oct; 14(10): 963-8.

19. Fossa SD, Hall KS, Johannessen NB, et al: Cancer of the penis. Experience at the Norwegian Radium Hospital 1974-1985. Eur Urol 1987; 13(6): 372-7.

20. Fraley EE, Zhang G, Manivel C, Niehans GA: The role of ilioinguinal lymphadenectomy and significance of histological differentiation in treatment of carcinoma of the penis. J Urol 1989 Dec; 142(6): 1478-82.

21. Gerbaulet A, Lambin P: Radiation therapy of cancer of the penis. Indications, advantages, and pitfalls. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 325-32.

22. Grossman HB: Premalignant and early carcinomas of the penis and scrotum. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 221-6.

23. Hatzichristou DG, Apostolidis A, Tzortzis V, et al: Glansectomy: an alternative surgical treatment for Buschke-Lowenstein tumors of the penis. Urology 2001 May; 57(5): 966-9.

24. Hoffman MA, Renshaw AA, Loughlin KR: Squamous cell carcinoma of the penis and microscopic pathologic margins: how much margin is needed for local cure? Cancer 1999 Apr 1; 85(7): 1565-8.

25. Horenblas S, van Tinteren H: Squamous cell carcinoma of the penis. IV. Prognostic factors of survival: analysis of tumor, nodes and metastasis classification system. J Urol 1994 May; 151(5): 1239-43.

26. Horenblas S, van Tinteren H, Delemarre JF, et al: Squamous cell carcinoma of the penis. III. Treatment of regional lymph nodes. J Urol 1993 Mar; 149(3): 492-7.

27. Horenblas S, Bex A, Tanis PJ: Sentinel node biopsy in squamous cell carcinoma of the penis [abstract 710]. J Urol 2001; 165: 173.

28. Horenblas S: Lymphadenectomy for squamous cell carcinoma of the penis. Part 1: diagnosis of lymph node metastasis. BJU Int 2001 Sep; 88(5): 467-72.

29. Horenblas S: Lymphadenectomy for squamous cell carcinoma of the penis. Part 2: the role and technique of lymph node dissection. BJU Int 2001 Sep; 88(5): 473-83.

30. Horenblas S, van Tinteren H, Delemarre JF, et al: Squamous cell carcinoma of the penis. II. Treatment of the primary tumor. J Urol 1992 Jun; 147(6): 1533-8.

31. Izawa J, Tamboli P, Ainslie N: Intraoperative lymphatic mapping (IOLM) for squamous penile cancer: The M.D. Anderson experience [abstract 711]. J Urol 2001; 165: 173.

32. Krieg R, Hoffman R: Current management of unusual genitourinary cancers. Part 1: Penile cancer. Oncology (Williston Park) 1999 Oct; 13(10): 1347-52.

33. Kroon BK, Horenblas S, Estourgie SH, et al: How to avoid false-negative dynamic sentinel node procedures in penile carcinoma. J Urol 2004 Jun; 171(6 Pt 1): 2191-4.

34. Kulkarni JN, Kamat MR: Prophylactic bilateral groin node dissection versus prophylactic radiotherapy and surveillance in patients with N0 and N1-2A carcinoma of the penis. Eur Urol 1994; 26(2): 123-8.

35. Lubke WL, Thompson IM: The case for inguinal lymph node dissection in the treatment of T2-T4, N0 penile cancer. Semin Urol 1993 May; 11(2): 80-4.

36. Lynch DF Jr, Pettaway CA: Tumors of the Penis. In: Campbell MR, Walsh PC, Retik AB, eds. Campbell's Urology. 8th ed. . Philadelphia, Pa: WB Saunders; 2002:2945-82.

37. McCance DJ, Kopan R, Fuchs E, Laimins LA.: Human papillomavirus type 16 alters human epithelial cell differentiation in vitro. Proc Natl Acad Sci U S A 1988 Oct; 85(19): 7169-73.

38. McDougal WS: Carcinoma of the penis: improved survival by early regional lymphadenectomy based on the histological grade and depth of invasion of the primary lesion. J Urol 1995 Oct; 154(4): 1364-6.

39. McLean M, Akl AM, Warde P, et al: The results of primary radiation therapy in the management of squamous cell carcinoma of the penis. Int J Radiat Oncol Biol Phys 1993 Mar 15; 25(4): 623-8.

40. Micali G, Nasca MR, Tedeschi A: Topical treatment of intraepithelial penile carcinoma with imiquimod. Clin Exp Dermatol 2003 Nov; 28 Suppl 1: 4-6.

41. Misra S, Chaturvedi A, Misra NC: Penile carcinoma: a challenge for the developing world. Lancet Oncol 2004 Apr; 5(4): 240-7.

42. Mohs FE, Snow SN, Larson PO: Mohs micrographic surgery for penile tumors. Urol Clin North Am 1992 May; 19(2): 291-304.

43. Mukamel E, deKernion JB: Early versus delayed lymph-node dissection versus no lymph-node dissection in carcinoma of the penis. Urol Clin North Am 1987 Nov; 14(4): 707-11.

44. Nelson BA, Cookson MS, Smith JA, Chang SS: Complications of inguinal and pelvic lymphadenectomy for squamous cell carcinoma of the penis: a contemporary series. J Urol 2004 Aug; 172(2): 494-7.

45. Novak JA, Dvoaeek J: Interstitial brachytherapy for penile carcinoma [abstract 709]. J Urol 2001; 165: 173.

46. Opjordsmoen S, Fossa SD: Quality of life in patients treated for penile cancer. A follow-up study. Br J Urol 1994 Nov; 74(5): 652-7.

47. Ornellas AA, Seixas AL, Marota A, et al: Surgical treatment of invasive squamous cell carcinoma of the penis: retrospective analysis of 350 cases. J Urol 1994 May; 151(5): 1244-9.

48. Pietrzak P, Corbishley C, Watkin N: Organ-sparing surgery for invasive penile cancer: early follow-up data. BJU Int 2004 Dec; 94(9): 1253-7.

49. Poblet E, Alfaro L, Fernander-Segoviano P, et al: Human papillomavirus-associated penile squamous cell carcinoma in HIV-positive patients. Am J Surg Pathol 1999 Sep; 23(9): 1119-23.

50. Rippentrop JM, Joslyn SA, Konety BR: Squamous cell carcinoma of the penis: evaluation of data from the surveillance, epidemiology, and end results program. Cancer 2004 Sep 15; 101(6): 1357-63.

51. Sarin R, Norman AR, Steel GG, Horwich A: Treatment results and prognostic factors in 101 men treated for squamous carcinoma of the penis. Int J Radiat Oncol Biol Phys 1997 Jul 1; 38(4): 713-22.

52. Seixas AL, Ornellas AA, Marota A, et al: Verrucous carcinoma of the penis: retrospective analysis of 32 cases. J Urol 1994 Nov; 152(5 Pt 1): 1476-8; discussion 1478-9.

53. Slaton JW, Huang SF, Levy DA: Lymph node-positive squamous penile carcinoma: Extent of nodal involvement predicts 3-year disease-free survival [abstract 712]. J Urol 2001; 165: 173.

54. Slaton JW, Morgenstern N, Levy DA, et al: Tumor stage, vascular invasion and the percentage of poorly differentiated cancer: independent prognosticators for inguinal lymph node metastasis in penile squamous cancer. J Urol 2001 Apr; 165(4): 1138-42.

55. Srinivas V, Morse MJ, Herr HW, et al: Penile cancer: relation of extent of nodal metastasis to survival. J Urol 1987 May; 137(5): 880-2.

56. Tabatabaei S, Harisinghani M, McDougal WS: Regional lymph node staging using lymphotropic nanoparticle enhanced magnetic resonance imaging with ferumoxtran-10 in patients with penile cancer. J Urol 2005 Sep; 174(3): 923-7; discussion 927.

57. Tanis PJ, Lont AP, Meinhardt W, et al: Dynamic sentinel node biopsy for penile cancer: reliability of a staging technique. J Urol 2002 Jul; 168(1): 76-80.

58. Theodorescu D, Russo P, Zhang ZF, et al: Outcomes of initial surveillance of invasive squamous cell carcinoma of the penis and negative nodes. J Urol 1996 May; 155(5): 1626-31.

59. Tietjen DN, Malek RS: Laser therapy of squamous cell dysplasia and carcinoma of the penis. Urology 1998 Oct; 52(4): 559-65.

60. von Krogh G, Horenblas S: The management and prevention of premalignant penile lesions. Scand J Urol Nephrol Suppl 2000; 220-9.


Keterangan Gambar:

Cancerous necrosis of the penis with urethral infiltration.

Sumber Gambar:

The Internet Journal of Urology. 2006. Volume 3 Number 2.
cited from:
http://www.ispub.com/ostia/index.php?xmlFilePath=journals/iju/vol3n2/penile.xml
»»  read more